GOBAG SODOR
Permainan Tradisional
Gobag Sodor
Merupakan sebuah permainan tradisional
yang melibatkan banyak anak. Dibagi ke dalam dua tim, jumlah anak per tim
minimal tiga. Satu tim berjaga dan yang lainnya menjadi lawan atau pelaku
permainan. Semakin banyak jumlah anak maka akan semakin seru. Permainan ini
dimainkan dalam sebuah lapangan yang sudah diberi garis kotak – kotak.
Kelompok yang mendapat giliran
untuk bermain harus bisa melewati kotak – kotak yang sudah dibuat, tanpa
tersentuh oleh kelompok yang berjaga. Jika tersentuh maka permainan berakhir
dan mereka harus berganti posisi. Tim lawan akan berjaga dan sebaliknya. Skor
akan dihitung jika seorang anak bisa pergi dan kembali lagi ke home-based atau
rumah atau pos pertama.
Permainan ini sangat menyenangkan
dan begitu populer. Biasanya zaman dahulu di sore hari anak – anak suka
berkumpul di sebuah lahan kosong dan memainkan permainan ini hingga maghrib
menjelang. Tak sekedar menyenangkan tetapi gobag sodor melatih kewaspadaan,
kecepatan, dan kebersamaan.
PERMAINAN TRADISIONAL
PETAK UMPET
Permainan Tradisional
Petak Umpet
Permainan ini minimal dilakukan
oleh dua orang dan tidak ada batas maksimal jumlah pemainnya. Satu orang akan
bertindak untuk berjaga pos dan nantinya mencari temannya yang bersembunyi. Ia
akan menghitung sesuai perjanjian yang ditentukan di awal permainan misalnya
sampai 20, 30, dan seterusnya.
Setelah hitungan mencapai angka yang telah ditetapkan, siap
atau tidak ia akan mencari teman – temannya yang bersembunyi. Orang pertama
yang ia temukan, itulah yang nantinya akan berjaga menggantikan posisinya
sebagai pencari dan penjaga pos. Selain bisa dilakukan di kebun, anak – anak
biasa memainkan permainan ini di dalam rumah. Tak jarang lemari, kolong tempat
tidur, dan kolong meja menjadi tempat persembunyian.
PERMAINAN TRADISIONAL INGKLING ATAU ENGKLEK
Permainan
Tradisional Ingkling atau Engklek
Permainan ini dimainkan dengan
cara berjalan satu kaki pada kotak – kotak yang sudah digambar di atas tanah
secara bergiliran. Dalam permainan tradisional Jawa ada beberapa macam ingkling
atau engklek, diantaranya adalah engklek gunung, engklek kitiran, engklek L,
dan lain – lain.
Pemain harus melempar koin atau
gacuk pada kotak secara berurutan. Pada kotak yang ditandai dengan lemparan
gacuk, pemain tidak boleh menginjaknya. Pemain harus melewati kotak dan pada
saat kembali ke garis awal ia harus mengambilnya kembali. Setelah itu
dilemparkan kembali pada kotak selanjutnya. Pemain akan kalah dan berganti
giliran jika ia melanggar aturan, misalnya menginjak garis.
PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG
Permainan
Tradisional Egrang
Egrang adalah suatu alat
permainan yang dibuat dari bambu. Bambu dipotong kemudian pada ketinggian
tertentu dipasangi bamboo lagi secara melintang yang berfungsi sebagai tempat
pijakan. Dahulu kala meskipun harus membuatnya sendiri, anak – anak rela berjam
jam untuk melakukannya. Hal seperti inilah yang bisa melatih kreatifitas,
keterampilan, serrta tanggung jawab anak.
Jika egrang sudah jadi, maka
mereka akan berkompetisi dengan teman – temannya. Yang bisa berjalan paling
cepat di atas egrang maka dia adalah pemenangnya. Di beberapa daerah, sebagai
pemenang egrang ia akan mendapat perlakuan istimewa dari teman – teman yang
dikalahkan. Hingga sekarang egrang belum benar – benar punah, malahan sering
dilombakan dalam peringatan kemerdekaan RI.
PERMAINAN TRADISIONAL LOMPAT TALI
Permainan Tradisional
Lompat Tali
Minimal permainan ini dimainkan
oleh tiga orang saja. Dua orang berposisi memegang tali dan satu sisanya
meloncati tali yang sudah dibuat dari karet yang dikait – kaitkan. Permainan
ini bisa dimainkan banyak orang tanpa jumlah maksimal. Tinggi tali di mulai
dari selutut, seperut, sedada, setelinga, sekepala, setengah merdeka (menaikkan
sejengkal tangan di atas kepala) dan merdeka (setinggi tangan menunjuk ke
atas).
Untuk menambah keseruan, biasanya
anak – anak menambahkan gaya setelah melakukan lompatan misalnya berpura – pura
menjadi patung. Setelah pelompat terakhir melakukan lompatan, maka patung harus
berubah menjadi manusia kembali. Jika ada yang bergerak sebelum pelompat terakhir
melakukan gilirannya, maka dia mati dan harus bergiliran menjadi pemegang tali.
PERMAINAN TRADISIONAL LEMPAR BATU ATAU GATHENG
Permainan Tradisional
Lempar Batu atau Gatheng
Gatheng adalah permainan
tradisional yang mengandalkan kerikil. Semakin banyak kerikil maka semakin
seru. Permainan ini dimainkan dengan membuat perjanjian. Terlebih dahulu pemain
akan melakukan suit atau hompimpah jika pemain lebih dari dua, bagi pemenang
akan menentukan berapa jumlah batu yang harus diambil.
Misalnya satu, dua, dan biasanya
paling banyak lima. Saat mengambil batu, satu batu dilempar ke udara. Sebelum
batu tersebut jatuh ke tangan kembali, tangan tersebut harus sudah mengambil
sejumlah batu yang ditentukan. Gampang – gampang, susah ya? Butuh kecepatan dan
ketepatan.
Pemain akan melakukan giliran jika pemain pertama sudah
berhenti karena melakukan kesalahan atau pelanggaran. Misalnya jumlah batu yang
diambil salah, saat mengambil batu ia menyenggol batu lain yang tidak diambil
dan saat melempar batu ke udara ia tidak bisa menangkapnya kembali.
PERMAINAN TRADISIONAL ULAR NAGA
Permainan Tradisional
Ular Naga
Permainan tradisional ini
dimainkan dengan jumlah anak yang cukup banyak, setidaknya lebih dari tujuh.
Dua anak akan menyatukan tangan di atas kepala seperti membuat terowongan
pendek dan sisanya berbaris memanjang sambil bernyanyi hingga lagu selesai,
mereka juga harus keluar masuk terowongan dengan berjalan perlahan.
Lagunya kurang lebih seperti ini
: “Ular naga panjangnya, bukan kepalang. Menjalar – jalar selalu riang kemari.
Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang” Saat lagu
selesai dan berhenti pada salah satu anak maka dia akan diajak menjauh dan
memilih harus mengikuti salah satu anak yang membuat terowongan.
Nantinya yang memiliki pengikut
terbanyak akan menjadi ayam dan induk sedangkan yang berpengikut sedikit akan
menjadi serigala. Tugas serigala adalah menagkap anak induk ayam dan dijadikan
pengikutnya. Tugas induk ayam adalah melindungi anak – anaknya dengan merentangkan
tangan. Meskipun membuat anak terjatuh, tetapi permainan ini melatih anak untuk
bertanggung jawab dan bersosialisasi.
PERMAINAN TRADISIONAL CUBLAK – CUBLAK SUWENG
Permainan Tradisional
Cublak – Cublak Suweng
Merupakan sebuah permainan
tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Satu pemain harus berjongkok di
tanah membentuk meja dan yang lainnya meletakkan tangan mereka di atas punggung
pemain yang berjongkok. Lalu mereka bernyanyi bersama sambil memindahkan benda
atau kecik yang nantinya harus disembunyikan di salah satu pemain dan anak yang
jongkok harus menebak siapa yang menyembunyikan.
Lagunya kurang lebih seperti ini
“Cublak – cublak suweng! Suwenge teng gelenter. Mambu ketundung gudel. Pak
dempo wela welo. Sopo ngguyu ndhelekake. Sir – sirpong dhele kopong! Sir –
sirpong dhele kopong!” Pada bagian “Sir …” itulah kecik mulai disembunyikan.
Jika berhasil menebak, maka yang menyembunyikan harus menggantikan posisi anak
yang jongkok tersebut.
PERMAINAN TRADISIONAL KOTAK POS
Permainan Tradisional
Kotak pos
Sebenarnya permainan ini bukan
dimainkan dengan makna sebenarnya. Caranya beberapa anak mengepalkan tangan dan
menyatukannya di tengah. Ada salah satu anak akan bertindak sebagai pemimpin
dengan menyentuh satu per satu kepalan tangan sambil bernyanyi bersama. Lagunya
seperti ini “Kotak Pos belum diisi, mari kita isi dengan film-filman, tak uk uk
minta apa?”
Saat lagu sudah berakhir dan
sentuhan tangan jatuh di salah satu anak, maka anak tersebut harus menyebutkan
tiga nama film. Jika tidak bisa maka ia harus keluar dari permainan dan kalah.
Film bisa diganti dengan bunga, buah, sayur, hewan, dan kata umum lainnya.
PERMAINAN TRADISIONAL SEPAK SEKONG
Permainan Tradisional
Sepak Sekong
Permainan ini sebenarnya mirip
dengan petak umpet, bedanya orang – orang yang bersembunyi bisa muncul sesuka
hati untuk merebut pos penjagaan dengan cara menyentuhnya dan berteriak
“sekong”. Jika semua orang yang bersembunyi bisa menyentuh pos maka si penjaga
akan berjaga lagi.
PERMAINAN TRADISIONAL BENTIK
Permainan Tradisional
Bentik
Dimainkan dengan kayu atau
patahan ranting pohon, anak – anak sangat suka memainkan permainan ini.
Sebelumnya, mereka bahkan berlomba – lomba mendapatkan ukuran terbaik batang
pohon dan membuat lubang luncur yang diyakini akan menyukseskan permainan
mereka. Biasanya sebelum permainan anak – anak akan melakukan hompimpah untuk
menentukan siapa yang pertama akan bermain.
Permainan diawali dengan mendorong tongkat yang dipasang
melintang pada lubang luncur, mereka menyebut ini dengan gerakan “mencuthat”,
Jika tongkat melambung dan lawan dapat menangkapnya maka ia akan mendapat poin.
PERMAINAN TRADISIONAL BENTENG – BENTENGAN
Permainan Tradisional
Benteng – Bentengan
Tak hanya dimainkan di luar
sekolah, permainan ini malah pernah dimasukkan dalam kurikulum pelajaran
Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan) atau olahraga. Semakin banyak yang
ikut bermain, maka permainan akan semakin seru dan ramai. Anak – anak akan
dibagi menjadi dua kelompok. Masing – masing akan memiliki tiang sebagai pos
dan benteng. Tujuan permainan ini adalah menguasai benteng lawan.
Para pemain akan maju ke wilayah
lawan dan berusaha menyentuh lawannya. Jika lawan tersentuh dan diketahui
keluar wilayah aman, maka ia akan menjadi tawanan. Jika anggota kelompok sudah
banyak yang menjadi tahanan, maka akan mudah bagi kelompok yang memimpin
permainan untuk bisa menduduki benteng lawan. Permainan akan berakhir, ketika
seorang anak bisa menduduki pos lawan tanpa tersentuh.
Menduduki disini dalam artian
hanya sekedar memegang sebagian tiang milik lawan saja. Lucunya, terkadang
permainan ini mereka anggap perang sungguhan, sehingga mereka melakukan dengan
sungguh – sungguh dan tak jarang berakhir dengan perkelahian, tapi uniknya hari
selanjutnya mereka akan memainkan permainan yang sama lagi.
PERMAINAN TRADISIONAL BOI – BOINAN
Permainan Tradisional
Boi – Boinan
Boi – boinan adalah permainan
tradisional yang dilakukan secara berkelompok. Mereka akan menyusun benda –
benda tertentu dalam area permainan, misalnya pecahan genting, batu, ranting,
dan lain – lain. Semua ditumpuk menjadi satu. Lalu, satu lagi benda yang tak
boleh terlewatkan, yaitu bola kertas. Setelah semua disusun, seorang anak akan
menggulirkan bola kertas ke arah tumpukan.
Peraturannya, jika bola kertas
mengenai lawan maka dia “mati” harus keluar dari permainan. Tumpukan yang
terkena bola kertas pun harus tetap disusun jika berantakan sambil tetap
waspada untuk jangan sampai terkena bola kertas. Permainan akan berakhir jika
tumpukan sudah habis dan tidak dapat disusun lagi.
PERMAINAN TRADISIONAL KASTI
Permainan Tradisional
Kasti
Kasti adalah permainan yang
melibatkan banyak orang. Setidaknya 12 orang. Dibagi menjadi 2 kelompok,
kelompok yang bermain dan yang berjaga. Sepintas permainan ini mirip olahraga soft
ball tetapi lebih tradisional. Pada tim penjaga, ada yang bertindak sebagai
blender atau pelempar bola, penjaga pemain yang memukul bola, dan sisanya
berjaga di tengah lapangan bersiap untuk melempari pemain yang lewat.
Bagi kelompok yang mendapat giliran
bermain, tugas mereka adalah memukul bola kasti sejauh mungkin dan berlari
melalui pos dan kembali ke rumah atau home based mereka. Meskipun permainan ini
sudah terlihat modern, sesungguhnya pada zaman dahulu sebagai pemukul anak –
anak menggunakan kayu, dan bolanya memakai apa saja asal bentuknya cenderung
bulat. Bahkan dari kertas yang dibulatkan.
PERMAINAN TRADISIONAL BAKIAK ATAU TEKLEK
Permainan Tradisional
Bakiak atau Teklek
Bakiak atau sering juga disebut
sebagai teklek adalah papan yang dipasangi karet sehingga bentuknya menyerupai
sandal tetapi dalam satu alas memanjang. Biasanya permainan ini dilombakan
beregu. Satu kelompok terdiri dari tiga sampai lima orang. Mereka akan memakai
papan berkaret bersama dan berjalan cepat. Regu mana yang paling cepat mencapai
garis finish maka itulah pemenangnya.
Permainan ini terlihat sederhana,
tetapi bukan perkara mudah dalam memainkannya. Dibutuhkan kerja sama dan
kekompakan dalam mengangkat dan melangkahkan kaki. Jika salah satu tidak fokus,
langkah bisa menjadi semakin berat dan menyebabkan satu regu terjatuh.
PERMAINAN TRADISIONAL AMELIA – AMELIA
Permainan Tradisional
Amelia – Amelia
Dimainkan dengan jumlah minimal
lima anak. Satu anak akan berperan sebagai orang miskin dan sisanya adalah
orang kaya. Si orang kaya akan bergandengan. Mereka akan menyanyikan lagu
secara bergantian, tujuannya agar si miskin bisa memperoleh anak dari si kaya.
Kurang lebih seperti ini nyanyian mereka:
Miskin: kami orang miskin, Amelia … Amelia …
Kaya: kami orang kaya, Amelia … Amelia …
Miskin: kami minta anak satu, Amelia … Amelia …
Kaya: namanya siapa Amelia … Amelia…
Miskin: namnaya xxxxx, Amelia … Amelia …
Kaya: seperti apa, Amelia … Amelia …
Miskin: seperti xxxxx, Amelia … Amelia…
Kaya: ini xxxxx – nya, Amellia … Amelia …
Maka si kaya akan memberikan satu
anak kepada si miskin. Setelah habis, mereka akan berakhir dengan permainan
ayam dan serigala. Si kaya menjadi serigala, dan si miskin yang sudah
mendapatkan anak akan menjadi induk ayam dan anaknya.
PERMAINAN TRADISIONAL KUCING DAN TIKUS
Permainan Tradisional
Kucing dan Tikus
Permainan ini dilakukan dalam
jumlah anak yang banyak. Saat pertama kali permainan di mulai akan ada dua anak
yang sudah ditentukan menjadi kucing dan tikus. Sisanya membuat lingkaran
dengan bergandengan tangan. Si tikus akan berada di tengah lingkaran lalu si
kucng berada di luar. Tugas si kucing adalah menangkap si tikus keluar masuk
lingkaran. Jika tertangkap, maka mereka akan berganti giliran.
Nah itulah penjelasan singkat
seputar permainan tradisional. Mulai dari permainan tradisional jawa timur,
permainan tradisional jawa tengah, permainan tradisional jawa barat, dll.